Makanan Tradisional
Sayur dan Sambal
Hidangan tradisional khas Jawa dengan sajian sayuran rebus seperti kacang panjang, labu, tahu, dan tempe goreng yang dipadukan dengan berbagai jenis sambal. Sambal pedas dan segar dihidangkan dalam cobek, menambah cita rasa otentik yang khas dari masakan pedesaan ngawonggo.
Makan ala Desa Situs Partirtaan Ngawonggo
Tersaji lengkap dengan nasi jagung, sayur hijau, sambal pedas, tumis sayuran, hingga lauk sederhana khas pedesaan. Semua disajikan dengan wadah alami dari daun pisang dan anyaman bambu, menambah nuansa tradisional yang ramah lingkungan sekaligus menggugah selera.
Sejarah Awal Tomboan
Awal mula gagasan Tomboan Ngawonggo lahir pada 2019–2020, ketika warga Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Malang, merasa perlu menghadirkan sebuah ruang jamuan yang ramah lingkungan bagi para pengunjung Situs Petirtaan Ngawonggo. Inisiatif ini dipelopori oleh Rahmad Yasin atau akrab disapa Cak Yasin, bersama komunitas warga dan relawan. Nama “Tomboan” diambil dari kata Jawa tombo (obat), yang mencerminkan sajian minuman herbal serta pangan lokal menyehatkan. Sejak awal, gagasan ini bukanlah sekadar usaha kuliner, tetapi lebih kepada wadah menjaga tradisi jamuan khas Jawa dengan nuansa alami dan penuh makna.
Tomboan mulai resmi dijalankan pada tahun 2020 dengan konsep unik sebagai ruang jamuan, bukan warung komersial. Prinsip utamanya ialah ramah lingkungan dan berbasis kearifan lokal. Semua peralatan makan terbuat dari bambu, daun, atau bahan yang bisa dipakai ulang tanpa plastik sekali pakai. Hidangan yang disajikan bersumber dari hasil bumi desa, antara lain singkong, jagung, tiwul, getuk, bothok, urap, hingga nasi jagung. Untuk minumannya, tersedia berbagai wedang rempah seperti jahe, serai, kelor, rosella, wedang cempoko, wedang telang, wedang ngawonggo dan wedang tomboan abang.