Tentang
Situs Petirtaan Ngawonggo

Visi

Melestarikan warisan budaya, baik benda maupun tak benda, sebagai identitas dan kekuatan masyarakat Ngawonggo.

Misi

Menjaga dan mempertahankan keaslian budaya lokal, mengelola situs sejarah, serta memperkenalkan tradisi melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Tujuan

Menggali, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan untuk memperkuat identitas, memperkokoh persatuan, serta menjadikan budaya sebagai tatanan kehidupan masyarakat. Selain itu, mendorong lahirnya kegiatan seni, pariwisata berbasis budaya, dan kerja sama dengan berbagai pihak demi kemajuan Desa Ngawonggo.

Filosofi

“Memayu Hayuning Bawono Lan Sasomo”

  1. Memayu Hayuning Bawono Lan Sasamo adalah bentuk upaya pembangunan dengan ramah lingkungan, serta memperhatikan pencagaran dalam berbagai aset kebudayaan untuk menjaga keselamatan dan kelestarian dunia. Dalam filosofi tersebut juga terdapat konsep asah, asih, dan asuh yaitu :
    • Asah, masyarakat diberikan kesempatan dalam mengembangkan keterampilan yang dimiliki sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan secara kritis dan analistis.
    • Asih, masyarakat dapat memberikan dan merasakan kasih sayang sebagai upaya membangun kepercayaan diri.
    • Asuh, masyarakat saling membantu dan mengembangkan pembentukan karakter moral dan spiritual berdasarkan nilai dan norma budaya.

Secara filosofis, Situs Petirtaan Ngawonggo mengajak kita memahami tata kelola air dan spiritualitas sebagai bagian dari kearifan lokal. Sistem seperti weluran (saluran terbuka) dan talang (penyaluran air) menunjukkan kecanggihan desain hidrologi kuno yang mengatur aliran sungai dan pengairan ke kolam petirtaan maupun sawah sekitar, sekaligus mendukung praktek ritual religius dan irigasi. 

Adanya aturan adat seperti larangan bagi perempuan hamil atau sedang haid untuk memasuki area petirtaan menunjukkan pemaknaan sakral terhadap situs; regulasi ini dijaga demi menghormati keberadaan spiritual tempat tersebut. Pengunjung juga diwajibkan melepas alas kaki dan tidak membawa makanan/minuman dari luar untuk menjaga kesucian fisik dan lingkungan situs.

Pengelola Situs

Cak Hanafi

Cak Hanafi

Pramu Wedhang
Budhe Sri

Budhe Sri

Pengampu Pawon
Budhe Dewi

Budhe Dewi

Pengampu Pawon
Mamah Eti

Mamah Eti

Pengampu Pawon
Pakde Pai

Pakde Pai

Penasehat / Sesepuh
Cak Yasin

Cak Yasin

Juru Kunci
Cak Handoko

Cak Handoko

Pramu Wedhang

Nilai Kebudayaan

Situs ini tidak hanya warisan arkeologis, tetapi juga ruang ekowisata edukatif, di mana pengunjung bisa belajar mengenai sistem air kuno, ritual tradisional, dan nilai pelestarian rasa hormat terhadap lingkungan dan budaya. Peranan aktif masyarakat lokal dalam merawat dan menjaga situs membuktikan upaya pelestarian berbasis komunitas yang mampu berlangsung tanpa dominasi komersial.

Definisi

Tomboan Ngawonggo muncul sebagai ruang jamuan yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat sekitar, bertujuan menjamu pengunjung situs peninggalan sejarah—Situs Petirtaan Ngawonggo—sebagaimana “ruang tamu”, sedangkan situs itu sendiri adalah “orang tuanya”.

Istilah Tomboan berasal dari bahasa Jawa yang berarti “obat”, mengacu pada wedang (minuman herbal) dari tumbuhan lokal yang berfungsi sebagai penyegar bagi jiwa dan raga.

Relief & Ukiran

Keindahan yang Menyentuh Jiwa
Setiap sudut menyimpan pesona yang memikat mata dan hati. Perpaduan alam, sejarah, dan seni menghadirkan harmoni yang menenangkan sekaligus mengagumkan.

Relief yang Bercerita
Pahatan pada dinding batu bukan sekadar hiasan, melainkan kisah abadi tentang kehidupan, kepercayaan, dan budaya masa lampau. Setiap relief adalah jendela menuju peradaban yang pernah berjaya.

Ukiran yang Sarat Makna
Motif-motif indah pada kayu, batu menggambarkan filosofi kehidupan dan kearifan lokal. Kehalusan detailnya menjadi bukti ketekunan serta warisan seni yang patut dilestarikan.

© 2025 PKM_RSH_UMM – Situs Partirtaan Nawonggo